Popular Products
Powered by Blogger.
Blog Archive
Search This Blog
Pages
Pages
About Me
Blogger news
Followers
Popular Posts
-
12 Feb 2014 Alhamdulillah, Allah masih memberiku nikmat hingga bisa menghirup segarnya udara pagi ini.. Sang Bijak sering berkata...
-
saya lanjutin pembahasan "Awal Akhir Ramadhan" dengan "Metode Penentuan Awal-Akhir Ramadhan" ya | semoga manfaat :) ...
Recent Products
Anak Singa di dalam Tempurung
Oleh Avee K-tsuki
Aku membuka pintu kamar nomor tujuh. Lagi-lagi, “Heiii, apa pekerjaan kalian itu hanya shalat, shalat, dan shalat?! Aku heran dengan jalan pikiran kalian!!” Mereka hanya menoleh datar. Aku menghela nafas dan bergegas membuka kamar nomor satu yang tepat berada di depan kamar nomor tujuh. Dan lagi-lagi, “Ya Allaah, setiap hari seperti ini yang kalian lakukan!! Shalat, berdzikir di kamar, membaca Alquran, lalu apalagi haah?!!” Aku membuka pintu-pintu kamar lain, dan tetap saja terlihat pemandangan yang sama. Heran. Marah bercampur sedih. Miris melihatnya. “Setiap hari hanya di kamar, kalau tidak di masjid, pergi juga hanya untuk kuliah. Mau jadi apa kalian haah?! Begini pemuda yang katanya ‘Agent of change’, ‘Generasi penerus’, atau apalah yang sering orang-orang sematkan?! Sudah merasa cukup rupanya kalian menjadi ahli ibadah!!”, amarahku mencapai puncak. Sudah cukup aku diam, sudah cukup aku mencoba menjelaskan baik-baik. Mereka tetap sama. Tak ada perubahan. Dan hari ini, ketika akhirnya amarahku mencapai titik tertinggi, mereka tetap bergeming. Nihil.
Aku membuka pintu kamar nomor tujuh. Lagi-lagi, “Heiii, apa pekerjaan kalian itu hanya shalat, shalat, dan shalat?! Aku heran dengan jalan pikiran kalian!!” Mereka hanya menoleh datar. Aku menghela nafas dan bergegas membuka kamar nomor satu yang tepat berada di depan kamar nomor tujuh. Dan lagi-lagi, “Ya Allaah, setiap hari seperti ini yang kalian lakukan!! Shalat, berdzikir di kamar, membaca Alquran, lalu apalagi haah?!!” Aku membuka pintu-pintu kamar lain, dan tetap saja terlihat pemandangan yang sama. Heran. Marah bercampur sedih. Miris melihatnya. “Setiap hari hanya di kamar, kalau tidak di masjid, pergi juga hanya untuk kuliah. Mau jadi apa kalian haah?! Begini pemuda yang katanya ‘Agent of change’, ‘Generasi penerus’, atau apalah yang sering orang-orang sematkan?! Sudah merasa cukup rupanya kalian menjadi ahli ibadah!!”, amarahku mencapai puncak. Sudah cukup aku diam, sudah cukup aku mencoba menjelaskan baik-baik. Mereka tetap sama. Tak ada perubahan. Dan hari ini, ketika akhirnya amarahku mencapai titik tertinggi, mereka tetap bergeming. Nihil.
Pernah suatu hari aku mencoba
melakukan ‘pendekatan’ ke Setyo, penghuni kamar nomor satu. “Tio, aku salut
denganmu. Rakaat dhuhamu tak pernah kurang dari enam belas, pun bacaan
Alquranmu yang tak pernah lebih sedikit dari satu juz. Tapi, apa kau tak ingin
keluar dari ‘sarangmu’? Berbaur dengan hingar bingar orang banyak.” Dia hanya
tersenyum, “Di luar sana terlalu banyak gangguan, terlalu banyak hal yang
melalaikan, dan menggoda iman. Aku ingin khusyu beribadah.” “Tapi...”, sebelum
selesai kalimatku dia segera memotong, “Sudahlah Tiar, aku harus menyelesaikan
target satu juzku. Aku tak ingin diganggu. Afwan.” Pintu segera ditutup, aku
beringsut pergi. Tak berhasil, lagi.
“Mengerikan sekali melihat
pergaulan sekarang ya Yar”, ucap Feri yang datang ke kamarku dan bercerita
suatu sore. “Kemarin saat pulang kuliah, aku mampir sebentar ke Gang Kenanga.
Kau tentu tahu, di sana sarangnya kemaksiatan. Aku terpaksa ikut karena diajak
Erwin. Cari objek dakwah katanya. Tapi apa yang terjadi? Aku digoda
wanita-wanita di sana yang sedang menemani lelaki hidung belang. Dan yang lebih
mengagetkan lelaki itu adalah teman kelasku Yar! Padahal dulu saat SMA, dia
adalah aktivis. Rajin ibadah. Aku segera bergegas meraih tangan Erwin dan
kembali ke ujung jalan. Ternyata dunia di luar sana begitu menakutkan Yar”, ungkap
Feri, penghuni kamar nomor tujuh. “Justru itu tugas kita Fer, mengembalikan
mereka ke pelukan Islam. Ladang dakwah kita itu”, aku menimpali. “Ah, tapi aku
takut Yar, aku takut terbawa, terwarnai, melebur bersama dengan mereka yang
bermaksiat. Lebih baik aku fokus perbanyak ibadah, bekal nanti hidup di akhirat.”
Aku menghela nafas. Pemahaman yang kurang benar, lagi.
***
“Islam itu dinamis, maka untuk
menjaganya kita harus menjadi Muslim yang aktif. Menyeru ke jalan Allah,
melaksanakan amar makruf nahi munkar, berjihad, dan berdakwah. Itu lah Islam didikan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Ucapan Ustadz Karim menggelorakan
semangat dakwahku. Sungguh. Sudah kuputuskan, hidupku hanya untuk Allah, untuk
Islam. Aku akan terus berada dalam barisan ini. Barisan para ‘karyawan’ Allah
yang mendedikasikan seluruh apa yang ada pada dirinya untuk Allah, yang selalu
berpikir apakah dirinya telah memberikan manfaat untuk orang lain atau malah
membawa kemudharatan, dan yang senantiasa mentaubati segala dosa-dosa yang
pernah dilakukan. Ya, inilah jalanku. Inilah pilihan hidupku.
“Jika kalian hanya berdiam diri,
meratapi nasib umat Islam saat ini dan merasa berduka cita, lalu siapakah yang
akan memerangi musuh-musuh Islam? Jika kalian mengasingkan diri dari hingar
bingar dunia, lalu siapa yang akan melawan konspirasi Zionisme dan Freemason serta
propaganda Komunisme dan Atheisme? Jangan tinggalkan jihad dan dakwah. Mereka,
musuh-musuh Islam, begitu apik
menyusun strategi untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan bagi kaum
Yahudi, memerangi syariat Islam, menjauhkan kita dari Alquran.” Semangatku full charge mendengarnya. Memang,
keburukan yang terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang tak terencana, tak
terorganisasi dengan baik. Itulah mengapa berjama’ah dalam dakwah begitu
penting.
Halaqah sore itu ditutup dengan rangkaian
kalimat yang patut menjadi bahan renungan. “Jika kita hanya melihat bagaimana
umat Muslim menderita dari kejauhan, tak berbuat sesuatu, menangis, dan meratap,
apa umat Islam akan bebas? Berjaya? Menang? Tidak Saudaraku!! Tidak!! Ingatlah,
Islam sampai dan bertahan di zaman kita sekarang karena dakwah. Janji Allah
adalah kepastian, bahwa Islam akan memimpin dunia. Kemenangan itu dipergilirkan
saudaraku. Dan sejarah pasti berulang. Hanya pelakunya sajalah yang kemudian berganti.
Islam pasti akan kembali berjaya. Islam pasti akan kembali memimpin peradaban
seperti dahulu. Maka pertanyaannya adalah ‘siapakah yang menggantikan pelaku
sejarah yang pernah terukir?’. Tidakkah kita ingin menjadi pelakunya?
Pemainnya? Tentu berbeda di mata Allah orang-orang yang hanya menjadi penonton
dengan mereka yang memilih menjadi pemain bukan?!”.
Setelah sempat kecewa dan hampir
putus asa dengan teman-teman yang terus ber’uzlah’ dan enggan ikut menyeru
Islam, kini aku kembali dengan semangat menggelora. Dan muncul lah sebuah ide
di benakku. Ini dia. Aku tak akan menyerah. Mungkin caraku yang ‘agak kasar’
membuat mereka tak mau membuka hati. Aku pun pulang dengan hati yang tenang dan
lapang. Bismillah. Semoga Allah memudahkanku yang ingin menjadi penolong
agama-Nya ini.
***
Assalamu’alaikum
Warahmatullah Wabarakatuh.
Teruntuk
Saudaraku yang kucintai karena Allah..
Sengaja
ku tulis surat ini sebagai wujud cintaku pada saudaraku seiman. Tak ada niat
apapun selain ingin mengajakmu berhijrah bersamaku menuju kebaikan.
Saudaraku, afwan
jiddan dengan segala sikapku selama ini. Mungkin aku telah mengusik khusyunya
ibadahmu. Tapi sungguh, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin
mengajakmu menjadi penyeru agama Allah yang mulia dan sempurna ini, Islam. Aku
hanya ingin mengembalikan semangat jihadmu.
Oh iya, aku akan
sedikit berkisah untukmu. Kau tahu Muhammad Al Fatih? Ya, pasti kau tahu. Ia
adalah penakluk Konstantinopel. Yang karenanya Imperium Romawi runtuh setelah
empat belas abad berkuasa. Al Fatih adalah seorang ahli ibadah. Shalat sunnah
tahajud tak pernah ia tinggalkan semalam pun sejak ia baligh. Shalat sunnah
rawatib juga tak pernah alpa hingga akhir kematiannya. Tapi tak hanya itu. Al
Fatih juga mempunyai semangat jihad yang tinggi, pantang menyerah, dan tak
takut mati. Ia ingin menjadi pemimpin terbaik seperti yang dijanjikan
Rasulullah,
“Kota
Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah
sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah
sebaik-baik pasukan.” [HR Ahmad]
Saudaraku, aku mungkin
bukanlah seorang Muslim yang ketakwaannya seperti Al Fatih. Tapi aku sedang
belajar dan berusaha menjadi penolong agama Allah, karyawan Allah. Aku ingin
berproses menjadi insan yang bertakwa. Aku ingin mendedikasikan segala potensi
yang ku miliki untuk memperjuangkan Islam. Aku ingin menjadi seorang yang
selalu menebar kebermanfaatan untuk orang lain. Dan aku tak ingin berjalan sendiri,
Saudaraku. Temanilah langkah perjuanganku. Saling mengingatkan, saling
menguatkan.
Saudaraku, tidakkah
kau terusik dengan berita-berita yang menunjukkan betapa umat Islam saat ini
begitu terhina? Saudara-saudara kita di Afghanistan, Irak, Palestina, Suriah,
Myanmar, Mesir, dan negeri-negeri Muslim lain sedang menderita. Dan kita hanya
terdiam. Meratapi. Dimana anak-anak singa Islam sekarang ini? Lari menjadi
pengecut karena takut?? Memilukan sekali. Islam butuh kita, Sudaraku. Jangan
melarikan diri.
Ku ingatkan
kembali kata-kata Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhallaa, “Tidak ada kejahatan yang
lebih besar setelah kekafiran, daripada melarang jihad di jalan Allah dan
menyuruh agar kehormatan kaum muslimin diserahkan begitu saja kepada
musuh-musuh Allah”. Kita tak ingin menjadi penjahat bukan?
Saudaraku,
bagaimana umat Islam akan tegak dan kembali kepada kejayaannya jika kita tak
punya tekad kuat seperti Abu Bakar yang bersumpah akan memerangi siapa saja
yang tak menjalankan syariat Islam? Atau seperti Anas bin Nadhr yang syahid
saat perang Uhud dengan delapan puluh lebih luka tikaman di tubuhnya?
Saudaraku, mari
kita berjuang tegakkan Islam. Jadilah anak singa Islam yang tak pengecut.
Raungkan semangat dakwah dan jihadmu. Tebarkan amar makruf dan nahi munkar.
Raihlah gelar “Singa di siang hari, namun rahib di malam hari” milik Umar bin
Khattab. Dan ingatlah, jihad adalah puncak ibadah tertinggi, Saudaraku.
Terakhir, tapi
bukan yang paling akhir. Ku kutip ayat cinta dari Allah. “Apakah kamu mengira
bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad
diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [QS Ali Imran : 142]
Sekian.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullah Wabarakatuh.
Dari Saudara
seimanmu
Tiar Ari Pramuditya
Akhirnya selesai juga. Surat untuk
saudara-saudaraku. Ku lipat serapi mungkin. Masukkan ke dalam amplop biru,
warna kesukaanku. Hehe. Dan besok pagi akan kuberikan kepada mereka. Bismillah.
***
Dua hari berlalu, aku lupa
‘mengecek’ kamar saudara-saudaraku. Semoga ada perubahan. Bismillah, mulai dari
kamar nomor satu. Setyo. Kulihat pintu kamarnya tertutup rapat. Ku ketuk. Tak
ada respon. Ah, rupanya terkunci. Oke, kulanjutkan mengetuk pintu kamar dua,
tiga, empat, dan akhirnya sembilan. Semua terkunci. Ada apa ini? Tak seperti
biasanya. Baiklah. Sekarang kamar terakhir. Feri. Aku tak putus asa. Ku ketuk,
lagi. Tak ada reaksi. Kemana mereka? Sudahlah. Mungkin sedang ada kepentingan,
batinku. Aku beranjak meninggalkan kamar nomor tujuh. Belum genap dua langkah
kaki ini bergerak, aku mendengar suara aneh di dalam kamar Feri. Sepertinya ada
yang tertawa. Aku menoleh ingin kembali mengetuk kamarnya dan...... gelap. “Tertangkap
kau. Ayo masuk.” Kedua mata ditutup kain, tangan terikat, dan aku didorong
masuk seperti tersangka yang dituntut hukuman mati. “Cepat masuk..”
Ikatan di kedua mataku terbuka.
Samar-samar kulihat wajah Ustadz Karim. Apa? Ustadz Karim? Sedang apa beliau di
sini? “Hahaha. Bingung ya Yar? Kita baru selesai halaqah dengan ustadz Karim lho.” Sergah Feri. Dari mana mereka
kenal Ustadz Karim? Setyo menepuk bahuku, “Wah, masih berlagak bingung nih.
Tiar, Tiar...”
“Begini Tiar. Kemarin Setyo
tiba-tiba menemui saya selepas halaqah. Dia mengikutimu dari kos sampai masjid katanya. Dia pun
menjelaskan apa yang terjadi dan meminta saya mengisi halaqah untuknya dan
teman-teman yang lain”, Ustadz Karim mencoba menjelaskan kepadaku yang masih
terduduk bingung. “Oh..”, aku menyahut pendek. Jitakkan pun mendarat di
kepalaku. “Aduh...” “Tak berperikemanusiaan sekali dikau, Yar. Kita itu ingin
memberi kejutan untukmu. Malah ekspresinya datar begitu.” Setyo
bersungut-sungut. “Hehehe. Maaf. Maaf. Aku kaget. Tak menyangka, sungguh.
Subhanallah sekali kalian. Luar biasa”, ku rangkul Setyo diikuti Feri, dan teman-teman....eh
saudara-saudaraku yang lain maksudnya. Hehe.
“Kita akan menemani perjuanganmu
Yar. Dan menjadi anak singa Islam yang meraungkan semangat dakwah dan jihad.
Membuat musuh-musuh Islam lari terbirit-birit. Hehe”
TAMAT
Sahabat itu...
“Seseorang itu tergantung agama temannya.Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
...Ketika persahabatan terjalin karena kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya,
niscaya ikatannya akan lebih konstan, mantap, dan istiqomah...
...ketika persahabatan diikat dengan kasih sayang yang mendalam, keimanan,
dan ketaqwaan kepada Allah,,,
maka simpulnya tak hanya tuk sesaat
karena hidupnya kan terjamin dunia juga akhirat..
materi, jabatan, atau kenikmatan dunia lainnya
bukanlah alasan mengapa mereka menjalin persahabatan..
Sabda Rasulullah lah yang mereka yakini,
“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru,
‘Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku?
Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku,
pada hari yang tidak ada perlindungan,
kecuali perlindungan-Ku.’” (HR. Muslim)
Ketika persahabatan semata-mata mengharap ridho-Nya
Saling menasihati bukan hal baru lagi,
karena pikirnya surga terlalu luas untuk ia nikmati sendiri..
Kadang mungkin terasa terlalu protektif,
tapi itu karena ia tak ingin keburukan menimpa sahabatnya..
Doa pun tak akan pernah putus terucap,
sebagai representasi kerinduan kepada sahabatnya..
Walau tak mendapat materi, melihat senyum sahabatnya adalah hal berharga
“Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun,
meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.”
(HR. Muslim dan Tirmidzi)
Berlapang dada dan Berbaik sangka adalah akhlak utama
untuk menciptakan perdamaian dalam persahabatan
Saling terbuka juga bukan hal yang tabu,
karena mereka percaya Seorang sahabat bisa menjaga rahasia
Jika Kau Mencintaiku...
Jika kau mencintaiku...Jauhilah aku..
Biarkan masing-masing dari kita dalam ketaatan..
Memantaskan diri menjemput takdir..
Mencintai dengan sepenuh hati Dzat Pemberi Cinta dan yang Maha Mencintai..
Jika kau mencintaiku...
Jangan hiraukan aku..
Biar hati ini tak berharap..
Biar pikir ini tak berkhayal..
Karena semua telah ditetapkan..
Aku tak ingin mendahului takdir..
Jika kau mencintaiku..
Cintailah aku karena Allah..
Dzat Yang Abadi..
Agar tak pernah musnah cintamu padaku..
Agar bertambah cintamu seriring meningkatnya Imanmu..
Jika kau mencintaiku..
Cintailah aku dalam diam..
Tak usah kau ucap kata-kata indah nan merayu..
Pun Tak perlu kau tunjukan perhatian padaku..
Jika kau mencintaiku..
Tundukkan pandanganmu..
Jaga izzah dan iffah kita..
Jangan biarkan cinta tumbuh karena fisik..
Jangan biarkan ia bersemi jika membuatmu lalai dari-Nya..
Jika kau mencintaiku..
Datangilah aku dengan cara yang makruf..
Maka aku pun kan menerimamu dengan cara yang makruf pula..
Mintalah izin pada waliku..
Segeralah mengkhitbahku jika kau rasa telah siap..
Karena aku tak ingin cinta nan suci ini terkotori oleh nafsu..
Jika kau mencintaiku..
Cintailah Allah terlebih dulu..
Maka Allah kan dekatkanmu dengan yang mencintai-Nya
dan dengan yang Allah cintai pula..
Jika mencintaiku buatmu lupa mengingat-Nya..
Maka sungguh, aku rela..
Aku rela jika kau hapus semua memori tentangku..
Aku tak ingin menjadi sebab keburukan bagimu..
Aku tak ingin..
Semoga hati ini akan tetap terjaga
Sampai saat yang indah itu tiba..
Semarang,23 Juli 2013
#Tak sanggup saingi para pujangga, tapi sungguh kata2 yg keluar tulus dari hati yang terdalam :)
SAAT BAYI-BAYI PALESTINA BICARA
Mereka tidak mati. Mereka Abadi. Menjadi saksi timah-timah
panas yang dipaksa merobek tubuh para mujahid, jua melubangi tubuh mungilnya. Dengan
mata terpejam, dan senyum keteduhan di wajahnya, ia bicara pada kita, pada umat
Islam di penjuru dunia.
“Tidakkah kalian melihatku, Mukmin? Tidakkah kalian melihatku
yang menjadi korban bagi kebiadaban Zionis?”. Kita hanya diam. Membisu. Meski
kita mendengar ratapan itu.
“Apakah yang telah kalian lakukan setiap melihat kami
menjadi mayat? Sedangkan para mujahid disini, di tanah Palestina ini selalu
menjadikan kematian kami sebagai api pengobar semangat bagi perjuangan tanpa
henti. Bahkan hanya untuk memberikan bantuan makanan bagi kami saja kalian
enggan. Kami bicara atas nama kemanusiaan jika kalian benar-benar mengaku
manusia. Kami bertanya pada kalian, dimanakah nurani kalian diletakkan? Blokade
Ghoza itu telah menyengsarakan kami Wahai Mukminin!!”
Kemudian kita hanya bisa menangis. Menangisi bayi-bayi tak
berdosa yang dibantai itu. Kita telah mendengar jeritannya. Bayi-bayi itu
bicara pada kita, dengan mata terpejam dan senyum keteduhan di wajahnya.
“Lihatlah lubang di tubuhku ini Wahai Mukmin!! Lihatlah
darah yang melumuri tubuhku ini Wahai Mukmin!! Kami bicara pada kalian atas
nama ukhuwah jika kalian masih percaya pada hadits Rasulullah. Tubuh kami,
tubuh bersimbah darah ini adalah juga tubuhmu Wahai Mukminin!!”
Kita, semua umat muslim di penjuru dunia mendengarnya. Sebagian
ada yang tertawa. Sebagian ada yang mencucurkan air mata, sebagian ada yang
berjuang dengan harta dan jiwanya.
“Demi Allah, Wahai Mukmin!! Kami adalah bayi-bayi tanpa dosa
yang menjadi tumbal kebengisan kaum laknat Yahudi. Tapi kalian malah sibuk
berdamai dengan mereka. Kalian mengadakan kerjasama dengan mereka. Kalian mengkonsumsi
produk-produk mereka yang sebagiannya dipakai untuk melubangi tubuh-tubuh kami.
Semoga Allah mengampunimu Wahai Mukmin! Semoga Allah mengampunimu”
Source: Muhasabah Cinta [Rafif Amir a.k.a Lukman Hadi, 2009]
Subscribe to:
Posts (Atom)
Labels
Follow us
Hanya seorang Muslimah yang ingin berbagi cerita, berbagi ilmu, berbagi hikmah | Semoga bermanfaat :)



