Popular Products

Recent Products

Catatan 'Ekonom Kecil' tentang Pemerintah

Kami (rakyat) sudah membayarmu (pemerintah) dengan pajak 
untuk membeli kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan. 
Tapi rupanya ‘barang jualan' yang kau berikan tak sama kualitasnya dengan yang kau janjikan. 
Sepertinya kau ingin menipu kami, hah?! 
'Pengorbanan ekonomi' yang kami keluarkan ternyata tak sama dengan apa yang kami dapatkan. 
Ini yang kau sebut adil?!
Dulu, saat kau (para caleg, cabup, cagub, dan capres) mempromosikan ‘barang jualanmu’, rasanya manis sekali. 
Sangat pintar kau hasut kami. 
Kau bilang ‘barang jualanmu' kualitas nomor satu, tak akan mengecewakan. 
'Bergainning'mu ternyata mampu membuat kami memilihmu 
sebagai ‘pemasok’ kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan bagi kami. 
Tapi lihatlah!! Ternyata kau ingkari janji!! Kau kemanakan uang kami, hah?!
Kau gunakan untuk bayar utang-utangmu? 
Hei!! Itu uang kami!! 
Kau sudah punya 'modal' kekayaan alam yang berlimpah bukan ?!
(yang sebenarnya itu pun harusnya kau berikan untuk kami, karena itu hak kami) 
Gunakan itu untuk membayar utang-utangmu!! Bukan dengan uang kami!!
Kenapa, hah?! Kau bingung?! 
Kekayaan alam kau biarkan orang lain yang mengelolanya, 
dan tak kau dapatkan uang yang pantas atas modal yang kau miliki. 
Ini yang membuatmu memeras kami? 
Atau jangan-jangan kau memang hanya mencari keuntungan pribadi saja.
Kau kantongi uang-uang kami, namun tak kau berikan ‘barang jualan’ yang kami minta. 
Kau manfaatkan kami rupanya. 
Kau makin kaya dengan segala siasatmu itu, 
sementara kami semakin miskin dengan segala kebijakan di 'Memorandum of Understanding (MoU)' yang kau buat, yang bahkan sama sekali tak kau beberkan semua isinya. 
Kau seenaknya membuat berbagai kebijakan, memaksa kami mematuhinya. 
MoU yang kau buat dan kau rahasiakan sebagian besar isinya, 
menjadikan kami di posisi yang lemah. 
Dan mau tidak mau, kami hanya bisa menunggu 'kontrak jual-beli' selama lima tahun ini selesai.
Kau masih mengelak juga?! Apa perlu kami beberkan semua ‘wanprestasimu’?! 
Sepertinya tak akan cukup jika kami tulis semuanya. Terlalu banyak!!
Kami jadi berpikir ulang untuk memilihmu kembali sebagai ‘pemasok’. 
PT. Demokrasi yang menjadi induk perusahaanmu sama sekali tidak memuaskan 'pelanggan'. 
Kau bilang kami boleh mengoreksi kebijakanmu, tapi nyatanya suara kami tak kau gubris. 
Bukannya 'PELANGGAN adalah RAJA' ya?! Kami seharusnya kau layani dengan sebaik-baiknya. 
Kami sudah membayarmu! Perlu kami ulang kalimat ini?! KAMI SUDAH MEMBAYARMU?! 
Dimana sebenarnya 'etika bisnismu', hah?!

Semarang, 10 Maret 2014

*Sedikit catatan 'ungkapan kekecewaan' yang terinspirasi dari perkataan dosen Akuntansi Perpajakan yang mengatakan Pemerintah digolongkan sebagai Pemasok dalam Konsep Akuntansi Pajak. Catatan ini juga ditulis saat kuliah Akuntansi Perpajakan berlangsung.

Rahasia Sukses Menjadi Penulis



12 Feb 2014

Alhamdulillah, Allah masih memberiku nikmat hingga bisa menghirup segarnya udara pagi ini..
Sang Bijak sering berkata bahwa pagi adalah dimulainya mimpi-mimpi. Pagi juga adalah awal kita mengukir cerita indah.
Dan pagi pula bukan yang menghapus segala kegundahan dan kesedihan kita? Yah, pagi seolah memberi harapan bagi kita bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin.
Dan pagi memberikan spirit untuk bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk esok atau lusa..
Pagi ini, sekitar pukul 6.30 WIB saya buka akun facebook. Saya lihat ternyata ada dua pesan yang masuk. Satu dari obrolan dengan teman semalam dan yang satu dari seseorang yang tak dikenali.
Kubuka keduanya. Ah sepertinya lebih menarik isi pesan dari Si Pengirim Tak Dikenali itu :)
Isinya begini:
"Assalamu'alaikum umi. Ana lihat syairnya umi "Jika Kau Mencintaiku" di majalah elfata. Bagus banget. Jadi ana jadikan status. Oiyah, umi suka anime yah? Masya Allah.
Tadi ana lihat status2 umi, ckckck lucu.lucu kalau kartun dan anime2 digabung jadi satu. Gimana tuh jadinya. Hehehe :)
Salam santun ukhuwah fillah yah Umi. Jazakillahu khayran katsiroo ^^"

Baca pesan itu saya kaget setengah hidup *nah lho, suprise, sungguh. Bukan karena dia baca status-status saya tentang anime lho ya, tapi karena puisi saya dimuat di majalah elfata! Masa sih? Perasaan saya tidak pernah mengirimkannya *perasaan bisa saja salah lho ya, hehe
Karena penasaran akhirnya saya tanya ke Si Pengirim Tak Dikenali itu, majalah elfata edisi berapa yang memuat puisi saya? Dan ternyata edisi 10 volume 13 tahun 2013.
Wah saya tambah kaget, sudah lama sekali ya berarti. Bulan Oktober 2013 lho, baru tahu Februari 2014 jal :D Itu puisi juga dibuat sudah lama pisan euy, bulan Juli 2013. Hemm..

Saya searching di mbah google elfata edisi tersebut, tetapi tak ada postingan yang memuat isi majalahnya. Yang ada malah postingan di salah satu blog yang membuat saya (lagi-lagi) tertarik.
Puisi saya diposting di blognya dan diakhir tulisan tersebut tertera sumber puisi: Umi hery salafiyah dalam majalah elfata ed.10 vol.13 tahun 2013 :D
Nah lho, jadi bener ya puisi saya dimuat :) hihihi
Alhamdulillah, walaupun pihak elfata tak memberi tahu, semoga itu puisi bermanfaat dan bisa menginspirasi :)
Saya pun buka email, dan mengecek pesan terkirim. Apakah dulu pernah mengirimkan puisi tersebut ke redaksi elfata atau tidak. Dan ternyata, saya mengirimkan puisi tersebut. Hehehe. Perasaan memang tak selalu benar kan? Saking lamanya, jadi saya lupa kalau pernah mengirimkan puisi. :D
Ngomong-ngomong masalah mengirimkan karya nih, dulu saya juga sempat mengikuti lomba cerpen yang diadakan Al Qolam UPI, sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di bidang kepenulisan di Universitas Pendidikan Indonesia. Walaupun cerpen saya yang berjudul “Anak Singa yang Pengecut” nggak  jadi juara, tapi lumayan lah sudah pernah memberanikan diri mengikutkan karyanya ke perlombaan. hehehe
Biasanya kan para penulis pemula minder yaah kalau sudah menyangkut kirim-kirim karya. Padahal nih, gimana kita mau tahu kualitas karya kita coba kalau tidak diikutkan perlombaan atau dikirim ke redaktur majalah atau penerbit?
Kita tak akan pernah tahu kalau belum mencoba kan?
Nah, buat temen-temen yang pengin jadi penulis, pasti akan menanyakan hal ini, "Gimana sih caranya jadi penulis?"
Nggak usah bingung kawan, kalau mau jadi penulis cuma satu hal yang harus dilakukan. MENULIS. Ya, menulis kawan.
*Yaelah, itu sih semua orang juga tahu.. -_-
Eh, ini serius lho. Kalau pengin jadi penulis ya menulis. Seperti kata Tere Liye, saat saya mengikuti seminarnya, ada peserta yang bertanya, "Bagaimana cara menghasilkan suatu karya bang? Saya buat cerpen itu nggak jadi-jadi."
Apa coba jawaban Bang Tere? Beliau tak memberi teori-teori kepenulisan yang bikin pusing tujuh belas keliling. Ciyuus. Bang Tere cuma jawab begini, "Ya ditulis tulis aja"
Tuh kan, seorang penulis sekelas Tere Liye saja hanya menyuruh kita melakukan satu hal, MENULIS.
Mulailah menulis hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Tulislah apa yang ada di pikiran kita. Lupakan dulu aturan-aturan atau kaidah yang menghambat ide cemerlangmu. Menulislah dengan bebas. Menulislah dengan spontan.
Karena kita sama-sama penulis pemula nih, saya mau bagi-bagi ilmu. Beberapa waktu yang lalu saya dapat bocoran rahasia terbesar dunia penulisan lho dari Bang Jonru. Kebetulan saya langganan newsletter beliau. Ini saya bagi sedikit ilmu yang saya dapatkan.
Rumus agar sukses dalam menulis itu cuma ini: "GUNAKAN OTAK KANAN DULU, BARU OTAK KIRI"
Maksudnya apa nih? Jadi begini, seperti yang kita tahu, otak kanan adalah otak yang penuh kreativitas, spontanitas, bebas, dan tidak peduli dengan aturan apapun.
Berbeda dengan otak kiri yang penuh analisis, penuh oleh berbagai pertimbangan, dan selalu lekat dengan kaidah atau aturan.
Nah, sering bukan kita merasa bingung harus memulai dari mana saat pertama kali menulis? Atau sering juga kita mentok karena bingung mau melanjutkan tulisan kita?
Hal-hal tersebut terjadi karena kita memulai menulis dengan otak kiri yang penuh pertimbangan, penuh analisis, dan terlalu banyak berpikir. Mulailah menulis dengan otak kanan, kawan.
Menulislah dengan bebas, jangan sampai berbagai teori kepenulisan menghantui dan menghambat kreativitas kita. Tulislah “semau-mau gue, suka-suka gue” :D
Fokus aja sama satu hal, "tulisan saya harus selesai. TITIK"
Kalau tulisan kita sudah selesai, baru deh kita ambil otak kiri dan pasang kembali di kepala *nah lho serem amat.
Maksudnya gini, kawan, kalau tulisan kita sudah selesai barulah kita biarkan otak kiri bekerja. Ingat semua kaidah-kaidah dalam menulis yang sudah kita dapatkan.
Baca lagi tulisan kita, sunting lagi jika memang ada paragraf yang nyleneh atau ada kata-kata yang tidak sesuai deng EYD.
Intinya sunting dan revisi tulisan kita jika kita sudah selesai menulis dengan otak kanan tadi. Jangan biarkan otak kiri kita ikut campur saat sedang menulis dengan merevisi atau mengedit beberapa bagian sebelum tulisan kita selesai.

Itulah rahasia terbesar di dunia penulisan, kawan.
Semoga bermanfaat :)
Salam sukses selalu :)

Anak Singa di dalam Tempurung

Oleh Avee K-tsuki
 
Aku membuka pintu kamar nomor tujuh. Lagi-lagi, “Heiii, apa pekerjaan kalian itu hanya shalat, shalat, dan shalat?! Aku heran dengan jalan pikiran kalian!!”  Mereka hanya menoleh datar. Aku menghela nafas dan bergegas membuka kamar nomor satu yang tepat berada di depan kamar nomor tujuh. Dan lagi-lagi, “Ya Allaah, setiap hari seperti ini yang kalian lakukan!! Shalat, berdzikir di kamar, membaca Alquran, lalu apalagi haah?!!” Aku membuka pintu-pintu kamar lain, dan tetap saja terlihat pemandangan yang sama. Heran. Marah bercampur sedih. Miris melihatnya. “Setiap hari hanya di kamar, kalau tidak di masjid, pergi juga hanya untuk kuliah. Mau jadi apa kalian haah?! Begini pemuda yang katanya ‘Agent of change’, ‘Generasi penerus’, atau apalah yang sering orang-orang sematkan?! Sudah merasa cukup rupanya kalian menjadi ahli ibadah!!”, amarahku mencapai puncak. Sudah cukup aku diam, sudah cukup aku mencoba menjelaskan baik-baik. Mereka tetap sama. Tak ada perubahan. Dan hari ini, ketika akhirnya amarahku mencapai titik tertinggi, mereka tetap bergeming. Nihil.
Pernah suatu hari aku mencoba melakukan ‘pendekatan’ ke Setyo, penghuni kamar nomor satu. “Tio, aku salut denganmu. Rakaat dhuhamu tak pernah kurang dari enam belas, pun bacaan Alquranmu yang tak pernah lebih sedikit dari satu juz. Tapi, apa kau tak ingin keluar dari ‘sarangmu’? Berbaur dengan hingar bingar orang banyak.” Dia hanya tersenyum, “Di luar sana terlalu banyak gangguan, terlalu banyak hal yang melalaikan, dan menggoda iman. Aku ingin khusyu beribadah.” “Tapi...”, sebelum selesai kalimatku dia segera memotong, “Sudahlah Tiar, aku harus menyelesaikan target satu juzku. Aku tak ingin diganggu. Afwan.” Pintu segera ditutup, aku beringsut pergi. Tak berhasil, lagi.
“Mengerikan sekali melihat pergaulan sekarang ya Yar”, ucap Feri yang datang ke kamarku dan bercerita suatu sore. “Kemarin saat pulang kuliah, aku mampir sebentar ke Gang Kenanga. Kau tentu tahu, di sana sarangnya kemaksiatan. Aku terpaksa ikut karena diajak Erwin. Cari objek dakwah katanya. Tapi apa yang terjadi? Aku digoda wanita-wanita di sana yang sedang menemani lelaki hidung belang. Dan yang lebih mengagetkan lelaki itu adalah teman kelasku Yar! Padahal dulu saat SMA, dia adalah aktivis. Rajin ibadah. Aku segera bergegas meraih tangan Erwin dan kembali ke ujung jalan. Ternyata dunia di luar sana begitu menakutkan Yar”, ungkap Feri, penghuni kamar nomor tujuh. “Justru itu tugas kita Fer, mengembalikan mereka ke pelukan Islam. Ladang dakwah kita itu”, aku menimpali. “Ah, tapi aku takut Yar, aku takut terbawa, terwarnai, melebur bersama dengan mereka yang bermaksiat. Lebih baik aku fokus perbanyak ibadah, bekal nanti hidup di akhirat.” Aku menghela nafas. Pemahaman yang kurang benar, lagi.
***
“Islam itu dinamis, maka untuk menjaganya kita harus menjadi Muslim yang aktif. Menyeru ke jalan Allah, melaksanakan amar makruf nahi munkar, berjihad, dan berdakwah. Itu lah Islam didikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Ucapan Ustadz Karim menggelorakan semangat dakwahku. Sungguh. Sudah kuputuskan, hidupku hanya untuk Allah, untuk Islam. Aku akan terus berada dalam barisan ini. Barisan para ‘karyawan’ Allah yang mendedikasikan seluruh apa yang ada pada dirinya untuk Allah, yang selalu berpikir apakah dirinya telah memberikan manfaat untuk orang lain atau malah membawa kemudharatan, dan yang senantiasa mentaubati segala dosa-dosa yang pernah dilakukan. Ya, inilah jalanku. Inilah pilihan hidupku.
“Jika kalian hanya berdiam diri, meratapi nasib umat Islam saat ini dan merasa berduka cita, lalu siapakah yang akan memerangi musuh-musuh Islam? Jika kalian mengasingkan diri dari hingar bingar dunia, lalu siapa yang akan melawan konspirasi Zionisme dan Freemason serta propaganda Komunisme dan Atheisme? Jangan tinggalkan jihad dan dakwah. Mereka, musuh-musuh Islam, begitu apik menyusun strategi untuk menguasai umat Islam dan memberikan kekuasaan bagi kaum Yahudi, memerangi syariat Islam, menjauhkan kita dari Alquran.” Semangatku full charge mendengarnya. Memang, keburukan yang terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang tak terencana, tak terorganisasi dengan baik. Itulah mengapa berjama’ah dalam dakwah begitu penting.
 Halaqah sore itu ditutup dengan rangkaian kalimat yang patut menjadi bahan renungan. “Jika kita hanya melihat bagaimana umat Muslim menderita dari kejauhan, tak berbuat sesuatu, menangis, dan meratap, apa umat Islam akan bebas? Berjaya? Menang? Tidak Saudaraku!! Tidak!! Ingatlah, Islam sampai dan bertahan di zaman kita sekarang karena dakwah. Janji Allah adalah kepastian, bahwa Islam akan memimpin dunia. Kemenangan itu dipergilirkan saudaraku. Dan sejarah pasti berulang. Hanya pelakunya sajalah yang kemudian berganti. Islam pasti akan kembali berjaya. Islam pasti akan kembali memimpin peradaban seperti dahulu. Maka pertanyaannya adalah ‘siapakah yang menggantikan pelaku sejarah yang pernah terukir?’. Tidakkah kita ingin menjadi pelakunya? Pemainnya? Tentu berbeda di mata Allah orang-orang yang hanya menjadi penonton dengan mereka yang memilih menjadi pemain bukan?!”.
Setelah sempat kecewa dan hampir putus asa dengan teman-teman yang terus ber’uzlah’ dan enggan ikut menyeru Islam, kini aku kembali dengan semangat menggelora. Dan muncul lah sebuah ide di benakku. Ini dia. Aku tak akan menyerah. Mungkin caraku yang ‘agak kasar’ membuat mereka tak mau membuka hati. Aku pun pulang dengan hati yang tenang dan lapang. Bismillah. Semoga Allah memudahkanku yang ingin menjadi penolong agama-Nya ini.
***
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Teruntuk Saudaraku yang kucintai karena Allah..
Sengaja ku tulis surat ini sebagai wujud cintaku pada saudaraku seiman. Tak ada niat apapun selain ingin mengajakmu berhijrah bersamaku menuju kebaikan.
Saudaraku, afwan jiddan dengan segala sikapku selama ini. Mungkin aku telah mengusik khusyunya ibadahmu. Tapi sungguh, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu menjadi penyeru agama Allah yang mulia dan sempurna ini, Islam. Aku hanya ingin mengembalikan semangat jihadmu.
Oh iya, aku akan sedikit berkisah untukmu. Kau tahu Muhammad Al Fatih? Ya, pasti kau tahu. Ia adalah penakluk Konstantinopel. Yang karenanya Imperium Romawi runtuh setelah empat belas abad berkuasa. Al Fatih adalah seorang ahli ibadah. Shalat sunnah tahajud tak pernah ia tinggalkan semalam pun sejak ia baligh. Shalat sunnah rawatib juga tak pernah alpa hingga akhir kematiannya. Tapi tak hanya itu. Al Fatih juga mempunyai semangat jihad yang tinggi, pantang menyerah, dan tak takut mati. Ia ingin menjadi pemimpin terbaik seperti yang dijanjikan Rasulullah,

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [HR Ahmad]
Saudaraku, aku mungkin bukanlah seorang Muslim yang ketakwaannya seperti Al Fatih. Tapi aku sedang belajar dan berusaha menjadi penolong agama Allah, karyawan Allah. Aku ingin berproses menjadi insan yang bertakwa. Aku ingin mendedikasikan segala potensi yang ku miliki untuk memperjuangkan Islam. Aku ingin menjadi seorang yang selalu menebar kebermanfaatan untuk orang lain. Dan aku tak ingin berjalan sendiri, Saudaraku. Temanilah langkah perjuanganku. Saling mengingatkan, saling menguatkan.
Saudaraku, tidakkah kau terusik dengan berita-berita yang menunjukkan betapa umat Islam saat ini begitu terhina? Saudara-saudara kita di Afghanistan, Irak, Palestina, Suriah, Myanmar, Mesir, dan negeri-negeri Muslim lain sedang menderita. Dan kita hanya terdiam. Meratapi. Dimana anak-anak singa Islam sekarang ini? Lari menjadi pengecut karena takut?? Memilukan sekali. Islam butuh kita, Sudaraku. Jangan melarikan diri.
Ku ingatkan kembali kata-kata Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhallaa, “Tidak ada kejahatan yang lebih besar setelah kekafiran, daripada melarang jihad di jalan Allah dan menyuruh agar kehormatan kaum muslimin diserahkan begitu saja kepada musuh-musuh Allah”. Kita tak ingin menjadi penjahat bukan?
Saudaraku, bagaimana umat Islam akan tegak dan kembali kepada kejayaannya jika kita tak punya tekad kuat seperti Abu Bakar yang bersumpah akan memerangi siapa saja yang tak menjalankan syariat Islam? Atau seperti Anas bin Nadhr yang syahid saat perang Uhud dengan delapan puluh lebih luka tikaman di tubuhnya?
Saudaraku, mari kita berjuang tegakkan Islam. Jadilah anak singa Islam yang tak pengecut. Raungkan semangat dakwah dan jihadmu. Tebarkan amar makruf dan nahi munkar. Raihlah gelar “Singa di siang hari, namun rahib di malam hari” milik Umar bin Khattab. Dan ingatlah, jihad adalah puncak ibadah tertinggi, Saudaraku.
Terakhir, tapi bukan yang paling akhir. Ku kutip ayat cinta dari Allah. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [QS Ali Imran : 142]
Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Dari Saudara seimanmu
Tiar Ari Pramuditya
Akhirnya selesai juga. Surat untuk saudara-saudaraku. Ku lipat serapi mungkin. Masukkan ke dalam amplop biru, warna kesukaanku. Hehe. Dan besok pagi akan kuberikan kepada mereka. Bismillah.
***
Dua hari berlalu, aku lupa ‘mengecek’ kamar saudara-saudaraku. Semoga ada perubahan. Bismillah, mulai dari kamar nomor satu. Setyo. Kulihat pintu kamarnya tertutup rapat. Ku ketuk. Tak ada respon. Ah, rupanya terkunci. Oke, kulanjutkan mengetuk pintu kamar dua, tiga, empat, dan akhirnya sembilan. Semua terkunci. Ada apa ini? Tak seperti biasanya. Baiklah. Sekarang kamar terakhir. Feri. Aku tak putus asa. Ku ketuk, lagi. Tak ada reaksi. Kemana mereka? Sudahlah. Mungkin sedang ada kepentingan, batinku. Aku beranjak meninggalkan kamar nomor tujuh. Belum genap dua langkah kaki ini bergerak, aku mendengar suara aneh di dalam kamar Feri. Sepertinya ada yang tertawa. Aku menoleh ingin kembali mengetuk kamarnya dan...... gelap. “Tertangkap kau. Ayo masuk.” Kedua mata ditutup kain, tangan terikat, dan aku didorong masuk seperti tersangka yang dituntut hukuman mati. “Cepat masuk..”
Ikatan di kedua mataku terbuka. Samar-samar kulihat wajah Ustadz Karim. Apa? Ustadz Karim? Sedang apa beliau di sini? “Hahaha. Bingung ya Yar? Kita baru selesai halaqah dengan ustadz Karim lho.” Sergah Feri. Dari mana mereka kenal Ustadz Karim? Setyo menepuk bahuku, “Wah, masih berlagak bingung nih. Tiar, Tiar...”
“Begini Tiar. Kemarin Setyo tiba-tiba menemui saya selepas halaqah. Dia mengikutimu  dari kos sampai masjid katanya. Dia pun menjelaskan apa yang terjadi dan meminta saya mengisi halaqah untuknya dan teman-teman yang lain”, Ustadz Karim mencoba menjelaskan kepadaku yang masih terduduk bingung. “Oh..”, aku menyahut pendek. Jitakkan pun mendarat di kepalaku. “Aduh...” “Tak berperikemanusiaan sekali dikau, Yar. Kita itu ingin memberi kejutan untukmu. Malah ekspresinya datar begitu.” Setyo bersungut-sungut. “Hehehe. Maaf. Maaf. Aku kaget. Tak menyangka, sungguh. Subhanallah sekali kalian. Luar biasa”, ku rangkul Setyo diikuti Feri, dan teman-teman....eh saudara-saudaraku yang lain maksudnya. Hehe.
“Kita akan menemani perjuanganmu Yar. Dan menjadi anak singa Islam yang meraungkan semangat dakwah dan jihad. Membuat musuh-musuh Islam lari terbirit-birit. Hehe”
TAMAT

Sahabat itu...

“Seseorang itu tergantung agama temannya.
Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

...Ketika persahabatan terjalin karena kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya,
niscaya ikatannya akan lebih konstan, mantap, dan istiqomah...
...ketika persahabatan diikat dengan kasih sayang yang mendalam, keimanan,
dan ketaqwaan kepada Allah,,,
maka simpulnya tak hanya tuk sesaat
karena hidupnya kan terjamin dunia juga akhirat..
materi, jabatan, atau kenikmatan dunia lainnya
bukanlah alasan mengapa mereka menjalin persahabatan..
Sabda Rasulullah lah yang mereka yakini,

“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru,
‘Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku?
Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku,
pada hari yang tidak ada perlindungan,
kecuali perlindungan-Ku.’” (HR. Muslim)

Ketika persahabatan semata-mata mengharap ridho-Nya
Saling menasihati bukan hal baru lagi,
karena pikirnya surga terlalu luas untuk ia nikmati sendiri..
Kadang mungkin terasa terlalu protektif,
tapi itu karena ia tak ingin keburukan menimpa sahabatnya..
Doa pun tak akan pernah putus terucap,
sebagai representasi kerinduan kepada sahabatnya..
Walau tak mendapat materi, melihat senyum sahabatnya adalah hal berharga

“Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun,
meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.”
(HR. Muslim dan Tirmidzi)

Berlapang dada dan Berbaik sangka adalah akhlak utama
untuk menciptakan perdamaian dalam persahabatan
Saling terbuka juga bukan hal yang tabu,
karena mereka percaya Seorang sahabat bisa menjaga rahasia

Jika Kau Mencintaiku...

Jika kau mencintaiku...
Jauhilah aku..
Biarkan masing-masing dari kita dalam ketaatan..
Memantaskan diri menjemput takdir..
Mencintai dengan sepenuh hati Dzat Pemberi Cinta dan yang Maha Mencintai..

Jika kau mencintaiku...
Jangan hiraukan aku..
Biar hati ini tak berharap..
Biar pikir ini tak berkhayal..
Karena semua telah ditetapkan..
Aku tak ingin mendahului takdir..

Jika kau mencintaiku..
Cintailah aku karena Allah..
Dzat Yang Abadi..
Agar tak pernah musnah cintamu padaku..
Agar bertambah cintamu seriring meningkatnya Imanmu..

Jika kau mencintaiku..
Cintailah aku dalam diam..
Tak usah kau ucap kata-kata indah nan merayu..
Pun Tak perlu kau tunjukan perhatian padaku..

Jika kau mencintaiku..
Tundukkan pandanganmu..
Jaga izzah dan iffah kita..
Jangan biarkan cinta tumbuh karena fisik..
Jangan biarkan ia bersemi jika membuatmu lalai dari-Nya..

Jika kau mencintaiku..
Datangilah aku dengan cara yang makruf..
Maka aku pun kan menerimamu dengan cara yang makruf pula..
Mintalah izin pada waliku..
Segeralah mengkhitbahku jika kau rasa telah siap..
Karena aku tak ingin cinta nan suci ini terkotori oleh nafsu..

Jika kau mencintaiku..
Cintailah Allah terlebih dulu..
Maka Allah kan dekatkanmu dengan yang mencintai-Nya
dan dengan yang Allah cintai pula..

Jika mencintaiku buatmu lupa mengingat-Nya..
Maka sungguh, aku rela..
Aku rela jika kau hapus semua memori tentangku..
Aku tak ingin menjadi sebab keburukan bagimu..
Aku tak ingin..

Semoga hati ini akan tetap terjaga
Sampai saat yang indah itu tiba..


Semarang,23 Juli 2013


#Tak sanggup saingi para pujangga, tapi sungguh kata2 yg keluar tulus dari hati yang terdalam :)

SAAT BAYI-BAYI PALESTINA BICARA

Mereka tidak mati. Mereka Abadi. Menjadi saksi timah-timah panas yang dipaksa merobek tubuh para mujahid, jua melubangi tubuh mungilnya. Dengan mata terpejam, dan senyum keteduhan di wajahnya, ia bicara pada kita, pada umat Islam di penjuru dunia. 

“Tidakkah kalian melihatku, Mukmin? Tidakkah kalian melihatku yang menjadi korban bagi kebiadaban Zionis?”. Kita hanya diam. Membisu. Meski kita mendengar ratapan itu.

“Apakah yang telah kalian lakukan setiap melihat kami menjadi mayat? Sedangkan para mujahid disini, di tanah Palestina ini selalu menjadikan kematian kami sebagai api pengobar semangat bagi perjuangan tanpa henti. Bahkan hanya untuk memberikan bantuan makanan bagi kami saja kalian enggan. Kami bicara atas nama kemanusiaan jika kalian benar-benar mengaku manusia. Kami bertanya pada kalian, dimanakah nurani kalian diletakkan? Blokade Ghoza itu telah menyengsarakan kami Wahai Mukminin!!”

Kemudian kita hanya bisa menangis. Menangisi bayi-bayi tak berdosa yang dibantai itu. Kita telah mendengar jeritannya. Bayi-bayi itu bicara pada kita, dengan mata terpejam dan senyum keteduhan di wajahnya.

“Lihatlah lubang di tubuhku ini Wahai Mukmin!! Lihatlah darah yang melumuri tubuhku ini Wahai Mukmin!! Kami bicara pada kalian atas nama ukhuwah jika kalian masih percaya pada hadits Rasulullah. Tubuh kami, tubuh bersimbah darah ini adalah juga tubuhmu Wahai Mukminin!!”

Kita, semua umat muslim di penjuru dunia mendengarnya. Sebagian ada yang tertawa. Sebagian ada yang mencucurkan air mata, sebagian ada yang berjuang dengan harta dan jiwanya.

“Demi Allah, Wahai Mukmin!! Kami adalah bayi-bayi tanpa dosa yang menjadi tumbal kebengisan kaum laknat Yahudi. Tapi kalian malah sibuk berdamai dengan mereka. Kalian mengadakan kerjasama dengan mereka. Kalian mengkonsumsi produk-produk mereka yang sebagiannya dipakai untuk melubangi tubuh-tubuh kami. Semoga Allah mengampunimu Wahai Mukmin! Semoga Allah mengampunimu”

Source: Muhasabah Cinta [Rafif Amir a.k.a Lukman Hadi, 2009]